Agar Si Kecil Tidak Menjadi Korban Cyber Crime

Survei ECPAT Indonesia (End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children for Sexual Purposes): Selama bulan September 2016 s/d Februari 2017, terdapat 6 kasus pedofilia yang terungkap dengan jumlah korban mencapai 157 anak. Kasus ini tersebar di 4 (empat) Provinsi dan 6 (enam) Kabupaten/Kota di Indonesia.

Yuk, perhatikan kembali do & dont’s penggunaan gadget dalam lingkup keluarga, terutama bagi Si Kecil agar tidak ketagihan (Baca: Hindari Gadget Holic Pada Si Kecil) dan terhindar dari praktek cyber crime yang mengancam melalui jejaring sosial media.

Social media analyst dan pakar digital Nukman Luthfie, yang ditemui oleh Smart Mama (22/9/2017) di kawasan Jakarta Selatan mengungkapkan fakta mengenai praktek cyber crime yang mengancam anak – anak sebagai korban, “Kasus pedofilia online yang mulai terkuak sejak awal tahun 2017 telah menjaring ratusan korban dalam rentang usia 2 – 12 tahun, dengan anggota group Facebook pedofil mencapai 7000 akun. Orang tua & pemerintah punya andil besar untuk menghentikan aksi ini melalui berbagai cara,” ujarnya.



Berikut 5 tip bagi Mamas untuk menghindarkan Si Kecil dari ancaman cyber crime menurut Nukman Luthfie:

1. Anak – anak di bawah usia 13 sebaiknya dilarang memiliki akun sosial media atas nama sendiri, untuk mencegah kemungkinan terburuk terjaring sindikat pornografi anak online.

2. Jika sudah terlanjur memiliki akun sosial media, segera ambil alih & kontrol penggunaannya. Mamas dapat berbagi akun dengan mereka agar dapat segera mendeteksi interaksi sosial yang sedang dilakukan.

3. Disarankan bagi orang tua untuk tidak mengunggah foto anak – anak di akun media sosial, atau menunjukkan lokasi sekolah & keberadaan diri yang berpotensi mengundang pelaku.

4. Lebih terbuka & menjadi sahabat bagi anak – anak, tidak hanya meningkatkan frekuensi komunikasi, tetapi juga membahas topik – topik sensitif seperti pendidikan seks dan menyeimbangkan aktivitas online nya dengan kegiatan luar ruang.

5. Jika mamas mengetahui praktek cyber crime, segera laporkan ke polisi. Dalam hal ini Nukman menambahkan, “Para pelaku harus mendapatkan efek jera agar menghentikan aksinya. Hal ini menjadi penting untuk digaris bawahi karena aktivitas yang mereka lakukan tidak kasat mata seperti tindak kejahatan secara fisik. Jadi, mari laporkan kepada pihak yang berwajib.”

Poin penting untuk dilakukan agar kita semua, terutama Si Kecil terhindar dari cyber crime adalah menciptakan suasana damai dan positif dalam lingkup dunia digital, “Kalau warga di dalamnya aktif menyuarakan kedamaian, bukan tidak mungkin angka kejahatan dapat diturunkan,” tutup Nukman. (Nathalie Indry/KR/Photo: Istockphoto.com)

 

SMARTMAMA

Hindari Gadget Holic Pada Si Kecil

Dengan kecanggihan teknologi saat ini, Anda sebagai orang tua perlu mengawasi dan membatasi penggunaan gadget. Si Kecil perlu diawasi agar tidak menyalahgunakan gadget untuk hal yang tidak baik. Kebanyakan orang tua mungkin masih bingung bagaimana cara yang tepat untuk mengatur penggunaan gadget. 

Tunjukkan penggunaan gadget yang bijak
Anak-anak akan selalu melihat orang tua mereka sebagai contoh dalam melakukan suatu hal. Maka dari itu, berikan contoh pada anak bagaimana menggunakan gadget yang bijak dalam kegiatan sehari-hari.Batasi penggunaan gadget pada diri sendiri sebelum Anda meminta anak melakukannya. Jika Anda menghabiskan banyak waktu di depan komputer atau TV, maka jangan harap anak-anak akan lepas dari gadgetnya.

Pelajari teknologi terkini
Kebanyakan anak-anak sekarang sudah pintar dalam hal teknologi dan bahkan lebih menguasai teknologi daripada orang tuanya. Nah, tugas Bunda adalah memelajari teknologi terkini.Cobalah untuk mengetahui sosial media apa saja yang sedang digandrungi anak muda atau aplikasi ponsel pintar apa yang sedang ramai diperbincangkan. Anda dapat melakukan riset di internet dan bergabung dengan forum yang membahas kemajuan teknologi informasi.

Buat area bebas gadget
Cobalah untuk membuat area bebas gadget di rumah di mana tidak boleh ada yang menggunakan gadget sama sekali baik laptop, televisi, video games, atau ponsel. Ruang makan bisa menjadi tempat yang cocok untuk area bebas gadget agar Anda dan anak-anak bisa berbicara dan bercerita selagi berkumpul bersama keluarga.




Jadwalkan waktu bebas gadget
Selain area bebas gadget, Bunda juga bisa membuat waktu bersama yang bebas dari gadget. Waktu makan atau waktu sebelum tidur bisa menjadi waktu yang pas untuk berkumpul dengan semua anggota keluarga tanpa ada gangguan gadget. Di waktu tersebut Anda bisa mengajak anak-anak untuk saling berbagi cerita tentang bagaimana kegiatan mereka seharian. Usahakan untuk mengajak suami juga untuk turut serta dalam waktu bebas gadget tersebut.

Gunakan kontrol orang tua
Lindungi anak-anak dari konten yang tidak sesuai dengan usianya pada televisi atau dunia maya. Anda bisa menggunakan kontrol orang tua di mana Anda bisa memantau apa yang mereka lihat di televisi atau dunia maya. Anda juga bisa menggunakan TV kabel untuk memilihkan acara televisi yang sesuai dengan usia anak-anak. (Yosi Avianti/Photo : Istockphoto.com)

SMART MAMA

Perbedaan Kisah Adam-Hawa di Islam dan di Kristen




Kisah Adam dan Hawa terdapat pada tiga agama yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Adam dan Hawa diberikan tempat yang mulia yaitu surga Adn. Kemudian, mereka diperdaya oleh Iblis sehingga terusir dari tempat indah itu. Adam dan Hawa disuruh turun ke bumi untuk hidup, berketurunan hingga meninggal.

Di dalam ajaran Kristen, dalam Kitab Kejadian (Perjanjian Lama) Pasal III dijelaskan bahwa iblis yang memperdaya Adam dan Hawa menumpang di dalam mulut ular dan dikatakan bahwa ular adalah binatang yang cerdik dan penipu. Dikatakan pula bahwasanya yang tertipu lebih dahulu ialah si istri karena perempuan adalah jenis manusia yang lemah dan lekas terpedaya.

“Maka, dilihat oleh perempuan itu bahwa buah pohon itu baik akan dimakan dan sedap kepada pemandangan mata yaitu sebatang pokok asyik akan mendatangkan budi, maka diambilnya daripada buah, lalu dimakannya serta diberikannya pula pada lakinya, maka ia pun makanlah.” (Kejadian 3:6)

“Dan jawab Adam seketika Tuhan bertanya mengapa dia bertelanjang apakah telah dimakannya buah itu?

Maka sahut Adam, ‘Adapun perempuan yang telah Tuhan karuniakan kepadaku itu, ia itu memberikan daku buah itu lalu dimakan.”(Kejadian 3:12)

Di dalam Perjanjian Baru ditegaskan pula bahwa Adam tidak bersalah, yang salah ialah perempuan itu sebab dia yang terlebih dahulu terpedaya.

Hal tersebut yang dijadikan dasar dalam ajaran Kristen yang dinamai dasar pertama bahwasanya manusia dilahirkan dalam dosa sehingga mereka diusir ke dalam dunia ini. Yang menjadi pangkal timbulnya dosa ialah karena perempuan tersebut yang lebih dahulu terpedaya oleh setan iblis dan perempuan tersebut turut pula memakan buah terlarang.

Perhatikan susunan ayat dalam Kitab Kejadian tersebut tampaklah lemahnya laki-laki yang mudah saja diperdaya oleh perempuan dan perempuan dapat diperdaya oleh lilitan ular iblis. Saat Tuhan bertanya, Adam dengan segera menyatakan diri bahwa dia tidak bersalah, yang salah ialah istrinya sebab dia yang merayu. Lantaran itu, terhimpunlah segala kutukan kepada perempuan.



Lalu, bagaimana kata Alquran tentang kejadian ini? Apakah Alquran menimpakan kesalahan pada perempuan? Apakah Alquran mengatakan bahwa laki-laki berlepas diri?

1. Di dalam surat al-Baqarah ayat 36 jelas benar dinyatakan bahwa keduanya sama-sama digelincirkan oleh setan sehingga keduanya sama-sama dikeluarkan dari surga.

2. Di dalam surat al-A’raaf ayat 20 dijelaskan bahwa yang diperdaya dan diberi waswas oleh setan sehingga memakan buah yang terlarang itu ialah keduanya, artinya sama-sama bertanggung jawab dan sama-sama bersalah.

Di dalam surat Thaahaa lebih dijelaskan lagi bahwa orang pertama di antara keduanya, yang bertanggung jawab atas kesalahannya ialah Adam, tegasnya adalah laki-laki.

Pada ayat 15 surat Thaahaa disebutkan, “Dan sungguh, telah kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa dan Kami tidak dapati kemauan kuat padanya.”

Dalam ayat tersebut jelas terlihat tanggung jawab seorang laki-laki dan kepada orang yang bertanggung jawab tersebut dijatuhkan perintah dan diambil janji bahwa tidak akan dimakannya buah yang terlarang. Namun dia lupa akan tersebut. Lalai.

Lalu, datang lagi ayat 120 yang demikian bunyinya, “Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya dengan berkata, ‘Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?’”

Dilanjutkan oleh ayat 21, “Lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun yang ada di surga dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia.”

Lanjut di ayat 122, “Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.”

Dari kedua susunan ayat tersebut yaitu terdapat pada Kitab Kejadian (Perjanjian Lama) pegangan orang Yahudi dan Kristen, serta di dalam Surat Thaahaa, dapat kita bandingkan dua gambaran watak pribadi dari seorang yang tengah dikisahkan. Pribadi yang bernama Adam, yang tersebut dalam Kitab Kejadian ialah sosok yang lemah, lekas jatuh dirayu istri. Akan tetapi, ketika ditanya tentang mengapa apa sebab dia salah, dilemparkan tanggung jawab kepada istrinya, yang dituduh memperdayainya. Tampaklah di situ bahwa ketika istri merayu, ia tidak berusaha membela sama sekali.

 



Dalam Alquran memperlihatkan pribadi dari seorang laki-laki berakal yang telah menerima janji atau mengikat janji dengan Allah SWT, yang karena tipu daya hawa nafsu dan keinginan yang dirayu oleh setan dia lupa akan janjinya. Ia menjadi lemah, tak kuat bertahan ketika menghadapi tipu muslihat.

Dijelaskan pada ayat 120 bahwa yang memperdaya adalah setan sendiri, langsung dari setan bukan dari rayuan istri. Di ayat tersebut tegas disebutkan seruan setan, “Ya Adam!”

Setelah suami terpesona, istri pun menurut, keduanya sama-sama melakukan kesalahan. Pada ayat 121 dijelaskan bahwa keduanya sama-sama memakan buah tersebut dan keduanya sama-sama terbuka kemaluannya, sama-sama tanggal pakaian surganya dan sama-sama terpaksa mencari daun kayu alam surga untuk menutupi auratnya.

Jalan keluar pun ditunjukkan Allah SWT sebab di samping menghukum siapa yang bersalah, Allah pun kasih sayang kepada hambaNya. Allah pun menunjukkan jalan keluar dari kemurungan perasaan merasa bersalah. Hal itu diabadikan dalam al-Baqarah ayat 37, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya lalu Dia pun menerima taubatnya. Sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.

Ayat 122 surat Thaahaa dijelaskan bahwa setelah Adam terlanjur bersalah lalu taubat, Allah menerima taubatnya. Lalu diturunkan insan atau basyar yang menerima tugas berat yakni menjadi wakil Allah dan Khalifatullah di muka bumi.

Dari perbandingan ayat-ayat dalam Bible dan Alquran dapat dipahami bahwa bagaimana penghargaan Kristen perempuan dan bagaimana pula dalam kacamata Islam. Wallahu A’lam.

 

BERSAMA DAKWAH

 

Baca juga:



Manusia yang Selamat dari Kerugian

Hari ini, Jumat yang penuh berkah,  insyaallah. saya memulai aktivitas dengan berwudhu kemudian merebus air dan shalat subuh+qobliyahnya.  Setelah itu saya minum air hangat lalu menulis catatan ini.

Dari jendela kamar di flat b/4 apartemen ini tampak aktivitas pagi warga Hongkong yang lalu lalang di sekitar Jardine Bazzar no 32, Causeway Bay, masih lengang. Baik yang berangkat kerja dengan menggunakan transportasi massal, seperti MTR,  Mini Rail Trem,  Bus Tenteng, dan Taksi, maupun pula yang bersiap membuka toko dan kantor.

Aktivitas warga biasanya dimulai pukul 07.00 pagi sampai pukul 00.00 malam hari. Untuk hari ini dan besok sepertinya tidak ada jadwal mengisi pengajian atau aktivitas dakwah lainnya, tetapi hari ahad ada dua jadwal taklim, dari jam 10.00 sampai jam 17.00 WHK.

Setelah mandi dan sarapan, saya bersiap-siap untuk shalat Jumat. Ternyata dugaan saya bahwa tidak ada aktivitas dakwah hari ini, meleset. Pihak KJRI melalui ust Firdaus, sekretaris PCINU Hong Kong meminta untuk menjadi Imam dan Khatib.

 



Dalam khutbah itu saya menyampaikan surat al-‘Ashr. Allah Ta’ala berfirman,
وَالْعَصْرِ،  إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Allah bersumpah dengan al ‘ashr, yang dimaksud adalah waktu atau umur. Karena umur inilah nikmat besar yang diberikan kepada manusia. Umur ini yang digunakan untuk beribadah kepada Allah. Karena sebab umur, manusia menjadi mulia dan jika Allah menetapkan, ia akan masuk surga.

Manusia Benar-Benar dalam Kerugian. Kerugian di sini adalah lawan dari keberuntungan. Yang pertama, kerugian mutlak yaitu orang yang merugi di dunia dan akhirat. Ia luput dari nikmat dan mendapat siksa di neraka jahim.

Yang kedua, kerugian dari sebagian sisi, bukan yang lainnya. Allah mengglobalkan kerugian pada setiap manusia kecuali yang punya empat sifat: (1) iman, (2) beramal sholeh, (3) saling menasehati dalam kebenaran, (4) saling menasehati dalam kesabaran.

Beriman kepada Allah tidak diperoleh kecuali dengan ilmu. Di dalam iman harus terdapat perkataan, amalan dan keyakinan. Keyakinan (i’tiqod) inilah ilmu. Karena ilmu berasal dari hati dan akal. Jadi orang yang berilmu jelas selamat dari kerugian.

 



Jadi orang yang selamat dari kerugian yang pertama adalah yang memiliki iman. Kedua Mereka yang Beramal Sholeh, yakni yang melakukan seluruh kebaikan yang lahir maupun yang batin, yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak manusia, yang wajib maupun yang sunnah.

Ketiga adalah mereka yang Saling Menasehati dalam Kebenaran. Yang dimaksud adalah saling menasehati dalam dua hal yang disebutkan sebelumnya. Mereka saling menasehati, memotivasi, dan mendorong untuk beriman dan melakukan amalan sholeh.

Keempat adalah Mereka yang Saling Menasehati dalam Kesabaran yaitu saling menasehati untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat, juga sabar dalam menghadapi takdir Allah yang dirasa menyakitkan.

Karena sabar itu ada tiga macam: (1) sabar dalam melakukan ketaatan, (2) sabar dalam menjauhi maksiat, (3) sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyenangkan atau menyakitkan.
kesimpulannya, manusia yang sukses adalah yang selalu menjaga hubungan baik dengan Allah dan menjaga hubungan baik dengan makhluk.

Itulah di antara isi khutbah yang saya sampaikan.

Ustaz Muhammad Halabi, Da’i Ambassador TIDIM LDNU

 

REPUBLIKA

Ket Foto: Ustaz Muhammad Halabi (Kanan).

 




Menjaga Keikhlasan Guru




Banyak guru tak ingin ditimpa kesusahan. Padahal, tak sedikit guru yang hidupnya berhasil karena sabar menjalani hidup susah. Setiap guru bisa jadi punya sudut pandang berbeda tentang makna hidup susah.

Saya kerap menjumpai guru di pelosok daerah yang hidupnya susah. Ukuran susahnya karena guru tersebut belum berstatus guru pegawai negeri sipil (PNS). Ada dua sikap berbeda dari guru yang hidup susah, mengeluh atau tetap ikhlas berbuat kebajikan. Yang mengeluh, hidupnya tak beranjak dari satu kesusahan ke kesusahan lainnya. Yang ikhlas mengajar dan mendidik, mereka kerap mengalami kejadian yang di luar nalar.

Contohnya, ada seorang bapak guru yang mengabdi di Biak (Papua). Beliau sudah lebih dari 20 tahun menjadi guru honorer. Hidupnya dijalani dengan penuh perjuangan. Dengan seorang istri dan tiga anak, uang gajinya pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Bahkan, kerap mengalami kekurangan. Tetapi, keluarga mereka bahagia. Berapa pun rezeki yang didapatkan, mereka cukupkan. Kehidupan keluarganya berjalan harmonis. Anak-anaknya tumbuh menjadi anak pintar dan saleh. Sambil berkaca-kaca, beliau mengutarakan perasaan bahagia dan bersyukur karena ketiga anaknya bisa kuliah di perguruan tinggi negeri lewat beasiswa.



Saat beliau bercerita ihwal perjuangan hidupnya sebagai guru, tak ada sedikit pun tersirat rona kesedihan. Saat hidup susah, beliau dan keluarganya tak banyak mengeluh. Sebaliknya, beliau malah tetap menjaga niat, keikhlasan, serta semangat dalam mengajar dan mendidik para siswanya. Di saat yang sama, ketaatannya kepada Allah SWT tak pernah berkurang, bahkan makin dekat dengan Allah SWT.

Hal itu yang menyebabkan dirinya tak pernah resah dengan status dirinya yang bukan guru PNS.

Dalam buku Cara Berpikir Suprarasional (Republika Penerbit, 2013) karya Raden Ridwan Hasan Saputra, bapak guru ini layak disebut guru suprarasional. Ketika menghadapi masalah yang sangat sulit, guru suprarasional menjadikan Allah SWT sebagai faktor yang sangat dipertimbangkan dalam mengambil keputusan atau tindakan dalam hidupnya. Guru dengan cara berpikir suprarasional selalu menggantungkan harapan dan doanya kepada Allah SWT dalam ikhtiar memecahkan kesulitan hidup.

Guru suprarasional paham makna merencanakan kesusahan. Di tengah himpitan kesulitan hidup, dia memilih tetap menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Bahkan, dia melakukan hal-hal lain di luar tanggung jawab. Misal, memberikan bimbingan belajar gratis kepada siswa yang lemah pemahamannyaa.

Dengan menjaga keikhlasan, kesusahan akan mendatangkan rezeki yang tak disangka-sangka. Anak yang saleh tak bisa dibeli dengan uang.

Bagaimana mungkin pula gaji seorang guru honorer bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi? Rezeki tak diduga adalah hasil kombinasi ikhtiar merenca nakan kesusahan dan menjaga keikhlasan. Atas izin Allah SWT, kesusahan membawa kenikmatan. Wallahu a’lam bishawab.

 

 

Oleh: Asep Sapaat

REPUBLIKA