Pengalaman Guru SDN Sawocangkring Harum Kawaludin Tugas di Australia

Harum Kawaludin adalah salah seorang guru berprestasi yang mendapat kesempatan tugas belajar di Australia. Selama sebulan belajar di Universitas Melbourne, dia mendapatkan banyak pengalaman. Khususnya tentang pendidikan untuk anak-anak inklusi.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI

 

CATATAN perjalanan Harum Kawaludin selama sebulan di Australia terangkum rapi dalam buku pribadinya. Hari demi hari, pria 49 tahun itu menyusun kisah perjalanannya dalam tulisan sederhana. Singkat, jelas, dan bermakna. Catatan kecil tersebut pun disebarkan ke media sosial (medsos) pribadinya sebagai sarana berbagai informasi tentang pendidikan di Australia. Kini catatan itu akan diabadikan dalam sebuah buku.

”Banyak yang ingin saya sampaikan lewat tulisan di buku saya nanti,” katanya sambil menunjukkan lembar demi lembar catatan perjalanannya yang telah di-print out kepada Jawa Pos di salah satu kafe di Taman Pinang Indah pada Selasa (21/3).

Selain catatan harian, guru SDN kelas V SDN Sawocangkring itu menyelipkan foto-foto selama di Australia. Harum lantas menunjukkan salah satu foto kenangannya bersama murid-murid SMA Saint Ignatius College, Geelong, Australia. ”Ini sekolah Katolik di Australia,” ucapnya bangga.

Ya, banyak kenangan dan pengalaman yang diperoleh Harum saat menjalani tugas belajar di Negeri Kanguru. Mulai kurikulum, sistem pendidikan, hingga media pembelajaran yang digunakan untuk anak-anak inklusi. Harum merupakan guru yang berkonsentrasi di dunia pendidikan inklusi. Sekolah yang kini menjadi tempatnya mengajar juga menerapkan pendidikan inklusi.

Ketertarikan di dunia inklusi tersebut mendorongnya untuk terus berinovasi. Hingga akhirnya, istri Endang Setyowati itu beberapa kali memperoleh penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Salah satunya adalah guru berprestasi tingkat nasional untuk jenjang SD-SMP penyelenggara inklusi 2016.

Kemendikbud juga mengirim Harum sebagai salah seorang guru berprestasi yang mendapat kesempatan menjalani tugas belajar di Universitas Melbourne, Australia, selama sebulan. Dia berangkat bersama 26 guru berprestasi dari berbagai kota lain di Indonesia. Guru-guru itu telah melalui proses seleksi yang ketat oleh Kemendikbud. Total ada 136 guru berprestasi nasional dari berbagai jenjang mulai 2014, 2015, dan 2016 yang mengikuti seleksi. ”Alhamdulillah, saya terpilih oleh Kemendikbud,” ujarnya.

Tugas belajar dimulai pada 28 Januari hingga 20 Februari 2017. Programnya bernama Australia Award Indonesia. ”Kali pertama di Australia, saya sudah kagum karena pemerintahnya memberikan hak pendidikan yang sama bagi anak-anak inklusi di sekolah,” ungkapnya.

Tidak hanya pendidikan secara materi di kelas, Harum juga mendapatkan ilmu melalui observasi langsung ke sekolah-sekolah di Australia. ”Yang kami pelajari banyak. Khususnya bagaimana cara anak difabel memperoleh pendidikan di sana (Australia, Red),” tuturnya.

Harum menjelaskan, di Negeri Kanguru, semua sekolah memiliki kualitas pendidikan yang sama. Tidak ada yang favorit. Yang paling mengesankan bagi Harum, seluruh sekolah menerapkan kurikulum diferensial. Yakni, kurikulum yang mengakomodasi seluruh siswa di dalam kelas tanpa membedakan murid umum atau difabel. ”Hanya bobot penilaian yang berbeda. Penilaiannya disesuaikan dengan kemampuan anak,” jelasnya.

Berbagai macam model pembelajaran diterapkan. Di antaranya, inkuiri, klinis, maupun eksplisit. Seluruhnya berpusat kepada siswa. Menurut dia, model pembelajaran tersebut sejatinya sudah terdapat di Sidoarjo. Namun, belum seluruh guru memahami dengan baik.

Harum menambahkan, dirinya juga mendapatkan ilmu tentang penilaian. Selama ini, kriteria ketuntasan minimal (KKM) tidak tercapai karena instruksi yang disampaikan saat evaluasi tidak jelas. Bahkan, guru tidak pernah memberi kesempatan atau memotivasi siswa untuk bertanya dan memahami tugas yang diberikan.

Menurut dia, siswa harus diajari problem solving. Yakni, bagaimana anak dapat menyelesaikan masalah tentang apa yang dilihat. Hal itu sekaligus dapat menggali bakat siswa dalam berfikir logis, keberanian berpendapat, sabar, toleransi, dan menghargai pendapat orang lain. ”Bahkan, siswa diajarkan langsung menemukan masalah dan menyelesaikannya melalui kunjungan ke tempat-tempat museum,” paparnya.

Harum menuturkan, jadwal selama sebulan di Australia begitu padat. Sejak pukul 08.00–16.00, dia harus belajar di kampus. Kemudian, sisa waktunya digunakan untuk mengunjungi tempat-tempat pembelajaran di objek wisata. Di antaranya, museum-museum.

Tempat objek wisata tersebut dijadikan sebagai salah satu cara penerapan pembelajaran inkuiri kepada siswa. Bahkan, siswa-siswa difabel mendapatkan akses belajar yang bagus di museum-museum itu. ”Saya kaget, kemampuan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Australia jauh lebih banyak menguasai materi dalam berbagai hal. Mereka belajar langsung di sana,” tandasnya.

Museum-museum itu telah bekerja sama dengan lembaga pendidikan di Australia untuk menerapkan metode pembelajaran inkuiri. Guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan membimbing siswa. Sementara itu, siswa bertugas mencari solusi. ”Guru pun menyesuaikan batasan setiap anak. Khususnya yang penyandang disabilitas,” katanya.

Pemerintah Australia memberikan perlindungan dan hak yang sama kepada penyandang disabilitas. Misalnya, akses jalan, seperti kursi roda yang menempel di rel tersedia di beberapa tempat umum. Jalan penyeberangan juga diberi nada khusus untuk penyandang tunanetra. Yang paling penting, ABK tidak harus bersekolah di sekolah luar biasa (SLB). Mayoritas belajar di sekolah umum atau reguler. ”Sekolah benar-benar ramah lingkungan dan nyaman bagi ABK tanpa ada bullying,” terangnya.

Selain belajar langsung oleh pakar pendidikan di Australia, Harum memperoleh kesempatan untuk mengajar di Saint Ignatius College di Geelong, Australia. Saat itu, dia mengajar siswa kelas SMA dan tinggal di rumah guru selama empat hari. Tujuannya, mengetahui kehidupan guru di Australia. ”Di sana, saya sangat terkejut. Saat saya dijemput di stasiun, Elena Cole (guru yang ditumpangi) adalah kepala bidang bahasa Indonesia di Saint Ignatius College,” tuturnya.

Rasa deg-degan pun dirasakan ketika praktik mengajar kali pertama di Saint Ignatius College. Sebab, dia akan mengajarkan siswa SMA yang sehari-harinya menggunakan bahasa Inggris. Namun, rasa grogi itu sirna setelah mengetahui sekolah tersebut memiliki program belajar bahasa Indonesia. ”Saya mengajar bahasa Indonesia. Saya ajarkan percakapan, bermain peran, hingga mengenalkan budaya di Indonesia,” jelasnya.

Kini Harum telah kembali dari tugas belajar di Australia. Meski begitu, masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah menerapkan ilmu yang diperoleh dari program Australia Award Indonesia di sekolah-sekolah Sidoarjo. Hasil implementasi tersebut akan dipresentasikan pada Mei oleh Asia Education Foundation sebagai pelaksana proyek pendidikan antarbangsa. ”Sementara itu, saya akan terapkan lebih dulu di SDN Sawocangkring,” paparnya.

sumber: JAWAPOS

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *